Investasi Bisnis OnlineDEDEYAHYA.web.id

Popularitas Al-Qur’an Kian Meredup ?

(497 Views) | Mohammad Amar Shodiq

Fenomena media sosial yang sedang merebak dimana-mana, membuat semua kalangan berlomba-lomba membuat dan memilikinya, baik itu facebook, instagram, twitter, BBM dan lain-lain. Keadaan ini tentu membuat ironi bagi sebagian kalangan yang peduli kepada agama, sebab di dalam agama kita mengenal adanya kitab suci al-Qur’an, yang mana kita sebagai umatnya diperintahkan untuk membaca dan mengamalkan nilai-nilai ajaran al-Qur’an itu di dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan teknologi dan informasi memang memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, akan tetapi di sisi lainnya juga menyimpan banyak madharat ketika digunakan secara berlebihan. Kita mungkin bisa meluangkan banyak waktu dengan berlama-lama berada di depan smartphone kita dengan membaca-baca status orang lain, dan membuat status sendiri melaui media sosial yang kita miliki. Akan tetapi, meluangkan waktu kita sendiri untuk membaca al-Qur’an dan mempelajarinya meski sebentar, itu merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kita.

Jika dahulu al-Qur’an selalu terdengar dilantunkan dan dibaca oleh berbagai kalangan, baik itu anak-anak, remaja, sampai orang tua di bilik-bilik rumah mereka masing-masing, entah itu ketika pagi, siang dan malam hari setelah selesai melaksanakan ibadah sholat yang lima waktu, maka saat ini semua itu hanya menjadi kenangan dan cerita saja. Hal ini dikarenakan popularitas al-Qur’an memang sedang meredup dan mengalami kemerosotan, terutama di kalangan para remaja muslim sendiri, karena mereka lebih menyukai media sosial yang dianggap lebih menarik.

Saat ini, lantunan dan pembacaan ayat suci al-Qur’an yang selalu dibaca setiap waktu hanya dapat kita temukan di pondok-pondok pesantren, yang memang kesehariannya mendidik para santriawan dan santriawatinya untuk membiasakan membaca al-Qur’an sehari-hari. Kemudian, di suatu waktu memang al-Qur’an dibaca setiap hari oleh setiap orang dari semua pemeluk agama Islam, dan itu hanya terjadi ketika memasuki bulan ramadhan saja. Lantas apa harus demikian? Dan apakah al-Qur’an hanya ramai dibaca ketika bulan suci ramadhan saja?.

Pertanyaan demi pertanyaan seperti di atas tentunya akan banyak ditanyakan berkaitan dengan mengapa terjadi demikian. Sebenarnya jika kita menyadari akan pentingnya al-Qur’an bagi kehidupan, fenomena yang dijelaskan di atas itu tidak akan terjadi, disinilah pentingnya peranan diri dalam menghalau ajakan-ajakan hati dan ajakan dari luar melalui orang lain untuk tidak terlalu menyibukkan diri dengan lebih mengutamakan media sosial. Kemauan berupa motivasi yang kuat kiranya perlu kita tumbuhkan, agar kita terdorong untuk membaca dan mengamalkan ajaran al-qur’an di dalam kehidupan ini.

Akan tetapi, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mendorong diri kita sendiri untuk melakukannya, yakni dengan memulai sedikit demi sedikit membisakan untuk membaca al-Qur’an. Karena terkadang jika ada anjuran, apalagi paksaan dari orang lain kepada kita untuk membacanya, maka meski kita melakukannya juga nantinya tidak akan berdampak baik, karena kita melakukan itu disertai adanya keterpaksaan, bukan kesuka relaan yang datang dari hati nurani sendiri.

Hal lain yang perlu diingat dan disadari adalah bahwa, melakukan perubahan terhadap segala sesuatu itu membutuhkan proses dan tidaklah mudah, apalagi untuk membiasakan diri membaca dan mengamalkan ajaran al-Qur’an, tapi bukan berarti itu mustahil untuk dilakukan, karena tidak ada kata terlambat ketika kita hendak melakukan sesuatu kebaikan. Sebagai mana KH. Abdullah Gymnastiar katakan “kita bisa memulainya dari diri sendiri, sekarang dan saat ini”.

Popularitas Al-Qur’an Kian Meredup ?
Rate this post

Tanggal : Popularitas Al-Qur’an Kian Meredup ?

Mohammad Amar ShodiqDipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: