Website DEDEYAHYA.web.id

Nyala lampu dan Nyala Hati

(708 Views) | Mohammad Amar Shodiq

dWipena.com – Sebagaimana kita ketahui, telah menjadi pengetahuan umum bahwa sebuah lampu bisa menyala dikarenakan adanya aliran listrik yang mengalirinya. Dengan adanya listrik dan ditemukannya lampu, manusia mendapatkan banyak manfaat darinya, salah satu manfaatnya adalah berupa penerangan ketika malam hari tiba, dengan demikian dalam keadaan yang gelap sekalipun jika terdapat adanya listrik dan lampu, manusia bisa melakukan segala aktivitasnya meskipun di malam hari.

Sehubungan dengan hal itu, kemudian apakah kaitannya judul di atas yakni antara nyala lampu dan nyala hati, penjelasan berikut menjelaskan kepada kita bahwa ketika manusia tidak memiliki keadaan hati yang hidup, yang artinya kurang begitu mendapatkan sentuhan-sentuhan cahaya keagamaan, maka ia akan senantiasa terjebak di dalam kehidupan yang jauh dari kebahagiaan, sebagaimana hidup di dalam kegelapan yang tidak ada cahaya sama sekali.

Jika lampu selalu diidentikkan dengan cahaya, maka cahaya merupakan penerang yang membuat kita bisa melihat dan juga berfungsi sebagai penerang jalan di dalam kegelapan. Di dalam bukunya M.Quraish Shihab “Dia Di Mana-Mana” dikatakan bahwa di dalam kehidupan spiritual, cahaya merupakan simbol dari pencerahan spiritual. Ilmu adalah cahaya, iman adalah cahaya, dan bekas-bekas wudhu di tangan dan wajah adalaha cahaya.

Jika demikian halnya cahaya di dalam kehidupan spiritual, maka jika hati seseorang dipenuhi dengan cahaya spiritual, seseorang akan senantiasa terbimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang di dalamnya termuat petunjuk-petunjuk tentang bagaimana kita sebagai manusia, menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga meraih kesuksesan tidak hanya di dunia saja, melainkan juga kesuksesan di akhirat.

Lebih lanjut M.Quraish Shihab mengatan di dalam bukunya bahwa ada cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri seperti matahari, ada pula yang pantulan dari selainnya seperti cahaya bulan, dan ada juga cahaya batan seperti halnya lampu listrik. Cahaya spiritual di hati seseorang juga demikian, ada yang diperoleh dari ulama yang bertaqwa, dari para nabi, dan ada yang langsung dari Allah, baik melalui kitab suci-Nya maupun dari limpahan karunianya berupa apa yang dikenal dengan ilmu laduni.

Namun demikian, cahaya juga tidak dapat begitu saja kita dapatkan, melainkan harus ada usaha yang dilakukan untuk mendapatkan cahaya tersebut, sebagaimana manusia ketika malam hari merasa kegelapan karena tidak adanya cahaya. Setelah ditemukan adanya listrik, kemudian ada yang mengilhami seseorang untuk menciptakan lampu yang dapat menyimpan energi listrik dan menjadikannya terang.

Begitu juga sama halnya dengan cahaya hati, untuk mendapatkan cahaya hati ini kita dituntut untuk berusaha mendapatkannya dengan menghilangkan benih-benih kegelapan berupa penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, hasud dan lain-lain. setelah itu kemudian kita dianjurkan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada sang pemilik cahaya yakni Allah SWT. Dengan begitu harapan dari kita semua tentunya adalah, selalu berharap bahwa cahaya Illahi selalu menyertai dan membimbing kita dalam mengarungi setiap episode-episode kehidupan yang kita jalani di dunia ini sampai ke akhirat nanti.

Nyala lampu dan Nyala Hati
Rate this post

Tanggal : Nyala lampu dan Nyala Hati

Mohammad Amar Shodiq Dipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: