Investasi Bisnis OnlineDEDEYAHYA.web.id

Memaknai Idul Adha Bagi Orang Perantauan

(684 Views) | Mohammad Amar Shodiq

Bagi kita sebagai orang-orang yang melakukan perantauan, entah itu untuk bekerja atau pun menuntut ilmu, ketika akan memperingati hari raya, di satu sisi kita dihadapkan kepada kebahagiaan akan datangnya hari raya, dan di sisi yang lain juga kita dihadapkan kepada kesedihan karena tidak bisa berkumpul untuk merayakan hari raya bersama orang-orang tercinta, baik itu bersama dengan keluarga, sodara, kerabat dan sahabat-sahabat kita. Terdapat berbagai macam alasan yang melatarbelakangi keadaan tersebut, biasanya dintara alasan yang menjadi faktor penyebab sebagian orang tidak bisa merayakan hari raya di rumah mereka masing-masing, adalah karena alasan pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan, kemudian sedang menuntut ilmu (kuliah), karena tidak mempunyai biaya yang cukup untuk pulang dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri dikenal adanya tradisi mudik lebaran, tradisi ini selalu dilakukan setiap tahun oleh sebagian masyarakat kita, khususnya yang memeluk agama Islam untuk merayakan hari raya idul fitri. Untuk bisa merayakan hari raya idul fitri, biasanya orang-orang yang pergi merantau akan berusaha sebisa mungkin untuk pulang ke kampung halamannya menemui keluarga, kerabat, teman dan orang-orang tercinta mereka. Akan tetapi, ketika hari raya idul adha keadaannya malah bertimbal balik, karena tidak semua pemeluk agama Islam melakukan tradisi pulang kampung lagi. Mengapa demikian, hal ini dikarenakan sebagaimana alasan di atas tadi yakni, karena alasan pekerjaan dan ada juga yang menuntut ilmu.

Tradisi pulang kampung atau mudik lebaran idul fitri akan selalu diusahakan oleh setiap orang, karena mereka beranggapan bahwa tidak setiap hari bisa berkumpul bersama keluarga, kerabat dan teman-teman mereka, dan itu hanya terjadi satu tahun sekali. Kemudian jatah hari libur kerja maupun libur kuliah yang diberikan oleh perusahaan, atau universitas ketika hari raya idul fitri lebih panjang dibandingkan dengan hari raya idul adha. Meski demikian, memang perasaan sedih akan tetap ada di benak setiap orang yang mempunyai anak dan istri, dan setiap orang yang memiliki kedekatan dengan keluarganya, ditambah dengan suasana yang sangat jauh berbeda sekali dengan keadaan perayaan hari raya yang ada di rumah, dan di tempat tinggal yang bukan rumahnya.

Suasana kampung halaman akan selalu memberikan kesan tersendiri ketika perayaan hari raya, dan itu sering kali tidak dapat kita temukan di tempat lain. Oleh karena itu, jika di rumah apalagi di desa biasanya, dikala itu akan dikumandangkan gema takbir menyebut kebesaran Allah SWT di setiap mushola dan masjid, baik itu oleh anak-anak, remaja dan orang tua, semuanya berduyun-duyun pergi bersama menuju ke mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat idul fitri maupun idul adha, dan setelah itu kemudian semua orang saling bertegur sapa, saling tersenyum bahagia dan saling memaafkan satu sama lain, baik itu ketika bertemu di mesjid, jalan, atau mendatangi ke setiap rumah masing-masing.

Sepulangnya dari mesjid juga biasanya jika di rumah, kita sudah mempersiapkan persiapan lebaran dari jauh-jauh hari, semisal dengan menyembelih hewan, dan kegiatan itu seolah-olah sudah menjadi tradisi yang wajib dilakukan sebelum menyambut idul adha. Kemudian hewan yang disembelih itu nantinya akan diolah sedemikian rupa menjadi berbagai aneka masakan dan ditunjang oleh adanya makanan-makanan yang lain, dan disantap bersama oleh kita sebagai suatu keluarga, terkadang biasanya ada pula kerabat yang datang ikut bersama-sama menyantap hidangan yang sudah dipersiapkan setelah pelaksanaan ibadah sholat idul adha tersebut.

Kiranya suasana-suasana demikian yang membuat seseorang merasa rindu akan kampung halamannya masing-masing ketika tidak bisa merayakan idul adha di rumah, terutama bagi orang-orang perantauan.

Memaknai Idul Adha Bagi Orang Perantauan
Rate this post

Tanggal : Memaknai Idul Adha Bagi Orang Perantauan

Mohammad Amar ShodiqDipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: