Investasi Bisnis OnlineDEDEYAHYA.web.id

Krisis Akhlak

(873 Views) | Mohammad Amar Shodiq

Bangsa Indonesia, saat ini sedang mengalami apa yang dinamakan krisis dalam berbagai dimensi, baik itu krisis ekonomi, krisis politik, krisis sandang pangan, krisis kepercayaan dan lain-lain. Salah satu hal yang perlu menjadi sorotan adalah berkaitan dengan krisis akhlak yang menimpa bangsa ini, dimana krisis ahlak merupakan sumber dari adanya krisis-krisis yang lain. Adanya pola pendidikan yang salah, yang kemudian menghasilkan lulusan yang salah juga dapat merusak keberlangsungan berdirinya suatu bangsa, karena yang merusak bangsa ini siapapun dulunya adalah anak-anak.

Ada dua hal yang perlu dievaluasi yakni berkaitan dengan tata nilai, yang pertama pendidikan keluarga, dan tata nilai pendidikan yang ada dimasyarakat. Ke dua hal ini seharusnya bisa dijadikan landasan bagi para pendidik, orang tua, masyarakat, serta seluruh pihak yang bertanggung jawab terhadap anak-anak didiknya dalam mewujudkan pendidikan yang berasaskan akhlak yang baik dan mulia. Dalam mengukur kesuksesan seorang anak, biasanya orang tua mendasarkan karena nilainya yang baik, tapi kita tidak tau apakah dia mendapatkan nilai baik itu melalui mencontek. Kita sering kali mengukur anak dilihat dari pandai tidaknya ia di sekolah atau pun dibandingkan dengan teman-temannya, tapi kita tidak mengetahui seperti apa etika anak-anak kita kepada gurunya, teman-temannya dan dalam menjaga kemuliaan sikapnya sehari-hari kepada orang lain.

Di sisi lain, tidak sedikit juga yang mengukur kesuksesan itu dari harta dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keduniaan, padahal jika pola alat ukur kesuksesan hanya didasarkan kepada aspek duniawi saja, maka ia akan jadi orang yang mencintai dunia, masih lebih baik ketika ia meraih kesuksesannya melalui cara-cara yang baik, lantas bagaimana jika kesuksesan itu didapatkan melalui cara yang tidak baik. Pendidikan disekolah memang penting, akan tetapi jika hanya mengejar nilai dan presentase kelulusan yang bagus, serta pola persaingan dalam pembelajaran yang dikedepankan maka yang pintar akan menjadi semakin pintar, sementara yang bodoh tetap menjadi bodoh tanpa memperdulikan orang lain dalam belajar, tidak adanya rasa kebersamaan yang menggerakkan hatinya untuk saling membantu bahu membahu mewujudkan kesuksesan bersama-sama dari anak didik. Jika kesemuanya itu dijadikan alat ukur, maka Indonesia sendiri tidak kekurangan orang yang pintar, yang tidak ada adalah yang pintar dan semakin benar. Karena lebih baik orang biasa saja akan tetapi memiliki akhlak yang baik dibandingkan orang yang pintar tapi tidak memiliki landasan akhlak sama sekali.

Alangkah indah ketika komitmen dalam mengedepankan akhlak terlebih dahulu dipupuk di lingkungan keluarga, kemudian di sekolah serta ditunjang dengan adanya lingkungan yang baik di masyarakat. Jika pondasinya sudah kuat maka ia tidak akan tergoyahkan oleh apapun, karena apalah artinya sebuah nilai jika kita tidak bernilai sebagai manusia. Negara yang kaya raya akan bangkrut tanpa disertai adanya komitmen untuk memperbaiki akhlak bangsanya, untuk apa menjadi orang yang pintar sementara ia jauh dari nilai-nilai kebenaran. Hal yang perlu diingat adalah bahwa kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dimulai dari rusaknya moral bangsa itu sendiri terutama dari generasai mudanya.

mewariskan nilai-nilai yang baik kepada generasi yang akan datang merupakan tanggung jawab bersama semua pihak. Jika sudah kearah ini kita berfikir, maka harapan besar kita dan harapan bangsa ini kiranya dapat terwujudkan dalam menghasilkan generasi-generasi penerus yang menjalin keseimbangan pola berfikirnya dan akan melahirkan keseimbangan di dalam perbuatannya. Hal ini terinspirasi dari apa yang disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar.

Krisis Akhlak
Rate this post

Tanggal : Krisis Akhlak

Mohammad Amar ShodiqDipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: