Website DEDEYAHYA.web.id

Kerikil Di Dalam Kaus Kakimu

(450 Views) | Mohammad Amar Shodiq

Kehidupan kita sebagai manusia tidak pernah terlepas dari adanya permasalahan demi permasalahan yang selalu datang, karena memang permasalahan telah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Kaitannya dengan hal itu, jika pada suatu keadaan kita diminta untuk memakan permen dan kemudian permen itu kita makan, kemudian kita diminta untuk menaruh batu kerikil di bawah pantat kita, maka apakah yang kita rasakan pada saat itu.

Dalam banyak kasus yang terjadi, meski memang hal ini tadinya dilakukan bagi anak-anak untuk mengajarkan sesuatu hal kepada mereka, tapi ketika diterapkan kepada orang dewasa pun hasilnya tidak jauh berbeda. Hasilnya adalah mereka lebih merasakan perasaan yang tidak nyaman dengan mengeluhkan adanya batu kerikil yang mereka duduki, sehingga mereka melupakan rasa manis permen yang dia kunyah di dalam mulutnya.

Kemudian kaitannya dengan kehidupan sendiri, bagaimana jika kegiatan di atas kita bandingkan dengan pengalaman-pengalaman kehidupan yang selama ini kita jalani. Apakah kita lebih sering memikirkan kesulitan-kesulitan, dengan adanya setiap permasalahan yang kita miliki (batu di bawah pantat yang kita duduki) dan melupakan semua rasa manis (permen) berupa kesenangan dan kebahagiaan yang selama ini kita alami.

Apakah yang sering kita bicarakan kepada orang lain, atau kita curhatkan melalui media sosial yang ada saat ini adalah hal-hal yang sering mengganggu, mengecewakan dan mencemaskan kita, ataukah kebaikan yang dilakukan orang lain kepada kita, apakah kita lebih sering memikirkan dan menginginkan hal-hal yang tidak kita miliki saat ini, dibandingkan dengan mensyukuri atas apa yang kita miliki saat ini.

Pertanyaan demi pertanyaan tersebutkan di atas bisa kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, kegiatan ini pun bisa kita praktekkan sendiri. Dengan begitu kita bisa memikirkan tentang apakah yang selama ini kita lakukan itu lebih sering mensyukuri nikmat yang telah ada yang Allah angerahkan kepada kita, atau kah kita lebih sering merasakan hal-hal yang mengecewakan yang terjadi pada kehidupan kita sendiri, sehingga seolah-olah nikmat dan kebahagiaan yang kita miliki tidak pernah kita dapatkan.

Permasalahan selalu dianggap sebagai batu kerikil di dalam kaus kaki kita, karena meski kecil batu itu sangatlah mengganggu langkah kaki. Keadaan seperti itu lebih sering kita rasakan sehingga pikiran dan perhatian kita terpusat hanya kepada permasalahan dan kesulitan itu-itu saja, sehingga kita lupa bahwa musibah dan kesulitan itu seperti setitik air di tengah samudera nikmat.

Pernahkah kita berpikir dengan menanyakan harga oksigen yang kira-kira mencapai 25.000/liter. Kemudian pernahkah kita juga bertanya harga nitrogen yang mencapai 10.000/liter, tidakkah kita sadari bahwa dalam sehari manusia menghirup 2,880 oksigen dan 11,376 nitrogennya yang jika dikalikan akan menghasilkan harga yang fantastis seperti 25.000 x 2,880 = 72.000.000 rupiah, itu hanya untuk oksigen saja.

Sekaya apapun seseorang jika oksigen dan nitrogen diberi label harga, maka banyak orang yang akan kesulitan membiayai kehidupannya hanya untuk bisa bernafas saja. Karenanya, marilah kita mensyukuri atas nikmat yang Allah karuniakan dalam kehidupan kita, sehingga kita bisa menikmati hidup ini, agar kita sebagai manusia tidak mudah putus asa dari rahmat Allah.

Kegiatan ini diambil dan dijelaskan di dalam buku “Mencerdaskan Anak” karya Saifullah, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kegiatan yang dijelaskan di atas, dan juga kita menjadi orang yang bisa lebih mensyukuri setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita di dalam kehidupan ini.

Kerikil Di Dalam Kaus Kakimu
Rate this post

Tanggal : Kerikil Di Dalam Kaus Kakimu

Mohammad Amar Shodiq Dipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: