Investasi Bisnis OnlineDEDEYAHYA.web.id

Belajar dari Alam Sekitar

(637 Views) | Mohammad Amar Shodiq

Kisah Imam Ibnu Hajar tentu sudah tidak asing lagi bagi kita sepak terjangnya di kalangan umat Islam. Sebagai salah satu ulama besar, Ibnu Hajar banyak menghasilkan karya-karya yang fenomenal pada masanya, bahkan sampai sekarangpun karya-karyanya itu masih dikaji dibeberapa lembaga keislaman seperti pondok pesantren, salah satu buah karyanya yang fenomenal dan terkenal adalah kitab Fathul Bari.

Ibnu hajar tumbuh sebagai salah seorang anak yang rajin dalam belajar, akantetapi beliau dikenal bodoh pada masa itu, sampai-sampai beliau memutuskan untuk pulang. Sementara itu, pada saat perjalanan pulangnya dengan keadaan hati yang sedih, Ibnu Hajar berteduh di suatu tempat dikarenakan hujan, yang kemudian melihat batu yang berlubang karena terus-terusan ditetesi oleh air.

Peristiwa itupun sontak membuat Ibnu Hajar tersadar dan menumbuhkan kembali semangatnya dalam belajar bahwa sekeras dan sesulit apapun sesuatu jika kita perjuangkan sungguh-sungguh dengan tekun dan rajin dalam mempelajarinya, maka jalan kemudahan akan menyertai dalam mengatasi kesulitan itu, sebagaimana batu yang keras karena terus menerus tertetesi oleh air sampai-sampai batu itu berlubang.

Cerita di atas memberitahukan kepada kita bahwa sebagai manusia, kita dikaruniai potensi oleh Allah yakni aqal untuk berfikir dan membaca. Hal inilah yang menjadi pembeda antara manusia dan binatang, adapun membaca dan berfikir disandingkan karena jika kita hanya membaca saja, tanpa disertai dengan berfikir maka hal tersebut dipandang kurang begitu sempurna.

Oleh karena itu, anjuran al-Qur’an sebagai wahyu yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad adalah untuk membaca, yang mana arti membaca tidak terbatas hanya ayat-ayat yang tertulis di dalam al-Qur’an, lebih dari itu kita dianjurkan untuk senantiasa membaca ciptaan Allah yang terhampar dimuka bumi ini yang kita kenal dengan ayat kawniyah.

Kegiatan membaca memang bukan perkara yang mudah, karena hal tersebut juga melibatkan proses berpikir, dan juga kita seringkali dihadapkan pada kesulitan dalam memahami maksud bacaan yang kita baca dan pelajari. Akan tetapi dari kisah Imam Ibnu hajar tadi sekiranya bisa menjadi bahan teladan dan renungan untuk kita dalam memperjuangkan sesuatu meski itu sulit untuk kita raih.

Sebagai contoh lain, kita bisa belajar dari binatang yakni semut. Jika kita lihat dan perhatikan, semut selalu kita temukan dimanapun dan biasanya semut selalu mempunyai jumlah kawanan yang banyak. Dalam kesehariannya semut memberikan contoh kepada manusia bahwa sikap gotong royong itu merupakan hal yang penting dalam mencapai sesuatu dan menyelesaikan suatu pekerjaan.

Dalam mencari makanan, ketika satu semut menemukan makanan, maka ketika mereka bertemu tidak serta merta saling berebut satu sama lain, akan tetapi semut selalu bersama-sama membantu membawa makanan itu ke sarang mereka. Hal ini tentu bertentangan dengan sifat kita sebagai manusia, padahal kedudukan kita lebih mulia dibandingkan dengan binatang.

Terkadang karena keadaan yang memaksa kita, seperti karena himpitan ekonomi yang dirasakan oleh orang-orang kalangan menengah kebawah selalu mendorong kebanyakan orang dalam melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan dengan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan ketika menuntut ilmu kita dihadapkan kepada kenyataan bahwa bukannya saling membantu satu sama lainnya dalam belajar, tapi malah persainganlah yang sering menonjol yang kita temukan.

Padahal jika kita bisa belajar dari cerita Ibnu Hajar dan semut tadi, dapat disimpulkan bahwa dalam meraih sesuatu dibutuhkan adanya kerja keras dan perjuangan yang tidak kenal lelah meski sesuatu itu dipandang sulit. Dan juga perlu disadari bahwa kesuksesan seseorang dalam meraih sesuatu itu bukanlah semata-mata karena hasil kerja kerasnya, melainkan disana ada bantuan dari orang lain, yang menuntut ilmupun begitu, karena Ibnu Hajar dikelilingi oleh teman-teman yang mau berbagi dan saling membantu satu sama lain dalam meraih kesuksesannya.

Belajar dari Alam Sekitar
Rate this post

Tanggal : Belajar dari Alam Sekitar

Mohammad Amar ShodiqDipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: