Website DEDEYAHYA.web.id

Bahaya Ketika Emosi Mengalahkan Nalar

(716 Views) | Mohammad Amar Shodiq

dWipena.com – Suatu ketika, di sebuah desa terdapat adanya keluarga kecil yang baru dikaruniai oleh seorang anak di dalam kehidupan rumah tangga mereka, dalam kehidupan kesehariannya setiap pagi sang suami melakukan rutinitasnya dengan bekerja, sementara itu sang istri tetap tinggal di rumah bersama sang bayi ditemani oleh binatang peliharaan keluarga tersebut, yakni seekor anjing yang juga merupakan binatang kesayangan dari keluarga itu.

Pagi itu disaat sang suami pergi bekerja, sang ibu mengasuh anaknya sehingga anak itu tertidur lelap, kemudian setelah itu sang ibu tersebut pergi melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga yakni hendak mencuci pakaian ke pancuran yang tempatnya itu tidak begitu jauh dari rumahnya. Sementara itu, ketika sang ibu melakukan pekerjaannya, ia meninggalkan anaknya yang sedang tertidur lelap ditemani oleh anjing peliharaannya itu.

Waktu pun terus berjalan dan sang ibu pun telah menyelesaikan setengah pekerjaannya, yakni mencuci. Namun kemudian, pada saat itu juga sang ibu kemudian terlintas di dalam pikiran dan benaknya seraya timbul rasa penyesalan karena meninggalkan anaknya tersebut bersama anjing peliharaan miliknya. Sontak ibu tersebut mulai merasa resah karena memikirkan keberadaan anaknya, sehingga ia berpikir bahwa ketika anaknya tertidur, ia khawatir bahwa nantinya anaknya tersebut akan didekati oleh anjing peliharaannya dan akan memakan anaknya.

Tanpa berpikir panjang sang ibu langsung pulang dan menyelesaikan cucian seadanya karena resah kepikiran dan membayangkan anaknya yang sudah digigit oleh anjing. Ketika ibu tersebut sampai di rumah, ia kaget bukan kepalang karena melihat mulut anjing peliharaannya tersebut telah berlumuran darah, sehingga ia berpikir bahwa kekhawatiran yang selama ini ia pikirkan telah menjadi sebuah kenyataan.

Ibu itu kemudian menangis meluapkan kesedihannya karena merasa bahwa anaknya itu telah benar-benar digigit oleh anjingnya, kemudian ibu itu memanggil anjing peliharaannya untuk membuat perhitungan, setelah itu anjing itu pun datang dengan mengguling-gulingkan badannya di hadapan majikanya itu seraya seorang pahlawan. Dengan keadaan emosi yang meluap-luap karena memikirkan anaknya yang telah digigit oleh anjingnya itu, kemudian sang ibu mengambil batu besar dan memukul anjing tersebut hingga mati.

Setelah sang ibu memukul anjingnya sampai mati, kemudian ia segera beranjak ke tempat tidur anaknya untuk melihat bayi kesayangannya yang telah digigit dan dimakan oleh anjingnya, ketika tiba di ranjang sang ibu pun kaget karena ia tidak menemukan bayinya, ternyata ketika diperhatikan lebih seksama di ranjang itu terdapat anaknya yang masih utuh dan ada dalam keadaan baik-baik saja tertutupi oleh kain dan bantal. Kemudian setelah itu sang ibu membalikan pintu rumahnya dan melihat adanya potongan-potongan tubuh seekor ular besar yang ternyata telah dibunuh oleh anjingnya sendiri yang berjuang mati-matian dalam melindungi anaknya, namun apa dikata ternyata anjing itu harus mati di tangan majikannya sendiri.

Inilah yang disebut kekhawatiran menimbulkan penyesalan yang disebabkan karena emosional mengalahkan nalar dalam menentukan sikap dan perilaku, hal demikian tentunya sangat membahayakan tanpa disertai adanya pertimbangan rasional terlebih dahulu. Tidakkah kita berpikir terlebih dahulu atas apa yang seharusnya kita perbuat sebelum melakukan suatu tindakan. Bukankan penyesalan terasa setelah kita berbuat suatu kesalahan tanpa adanya pertimbangan yang matang, sebagaimana sang ibu yang telah membunuh anjing kesayangannya sendiri yang selama ini menemani dan melindungi anak keluarga kecil tersebut.

Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa janganlah bertindak sebelum berpikir matang-matang, apalagi disertai dengan emosi, maka hasilnya yang terjadi nantinya bukanlah sesuatu yang baik, karena emosi tidak pernah mendatangkan kebaikan dan tidak pernah menyelesaikan suatu persoalan. Kiranya cerita di atas dapat menyadarkan kita agar lebih bisa arif dan bijaksana di dalam kehidupan ini. Cerita ini di ambil dari buku Manajemen Jati Diri karya Djapiter Tinambunan.

Bahaya Ketika Emosi Mengalahkan Nalar
Rate this post

Tanggal : Bahaya Ketika Emosi Mengalahkan Nalar

Mohammad Amar Shodiq Dipublikasikan dan ditulis oleh Mohammad Amar Shodiq
Tentang Mohammad Amar Shodiq

Usia saya sekarang 24 tahun riwayat pendidikan alhamdulillah lulus tahun 2013 dari UiN sunan Kali jaga Yogyakarta fakultas tarbiah jurusan Pendidikan Bahasa Arab, status masih single alias belum menikah

Categorised in: